Tewasnya Putri Padjadjaran Dyah Pitaloka
JUDUL : GAJAH MADA
GENDRE : FANTASI / SEJARAH
Merasa dapat penghinaan dari Raja Majapahit, Raja Padjajaran murka. Ia mengatakan sebuah ucapan kemarahan yang memantik emosi pejabat tinggi istana di Trowulan.
Raja Hayam Wuruk saat itu masih berusia 17 tahun. Keinginan untuk mempersunting Dyah Pitaloka bukan tanpa alasan. Dan memang lamaran yang dia pintakan pada Padjajaran karena memang Hayam wuruk memang berhasrat mencintai Dyah Pitaloka secara tulus. Apalagi sebelumnya mereka sudah pernah saling mengenal karena Dyah Pitaloka sempat mengenyam berbagai ilmu pengetahuan pada pendidik-pendidik terkenal di Majapahit.
Di saat Trowulan kisruh politik, Mahapatih Gajah mada membuat tekanan. Lapangan Bubat tidak diberi celah sama sekali. Lokasi ini dikepung dari segala penjuru. Ribuan pasukan berpakaian perang dengan berbagai senjata tengah bersiap menyerang jika sewaktu-waktu kealotan dua kubu berakhir dengan pertumpahan darah. Hadirnya Gajah Mada dalam pengepungan Bubat sebagai komando perintah dari para petinggi istana yang membenci Hayam Wuruk. Raja ini terlalu muda dalam mengambil pilihan. Memilih permaisuri kerajaan yang tentu saja dapat berdampak pada posisi mereka terutama menteri senior yang menginginkan agar anaknya perempuan yang mereka menjadi permaisuri. Mereka merasa tidak adil jika raja lebih memilih menikahi wanita lain yang tidak memiliki sumbangsih apa-apa atas kebesaran Negeri Majapahit, apalagi usia Raja Hayam Wuruk yang masih sangat muda. Dan mereka anggap belum pantas raja semuda itu mengambil keputusan yang dapat memecah belah kerukunan di Negeri Majapahit.
Entah dari mana datangnya, anak panah tiba-tiba saja berterbangan di langit sehingga mendarat pada tubuh pasukan Padjajaran. Melihat adanya ancaman serangan mendadak, timbul teriakan yang entah dari mana datangnya. Gajah Mada yang awalnya bertujuan damai atas apa yang dilakukannya, seketika tidak bisa mengontrol pertempuran. Ke dua kubu pasukan berjibaku saling serang. Padahal niat semula hanya mengintimidasi bukan memerangi. Apalagi Gajah Mada telah mendapat titah dari Hayam Wuruk agar jangan sampai terjadi pertumpahan darah. Dan karena kalah politik terhadap para bangsawan, Hayam Wuruk meminta Gajah mada melakukan apa saja demi tidak terjadinya perang. Ia menginginkan Dyah Pitaloka untuk sementara tinggal di Majapahit sampai Hayam Wuruk mampu mengatasi masalah pokitiknya dan meminta agar Prabu Linggabuana untuk pulang dahulu ke Padjajaran sampai semua urusan ini selesai. Sebenarnya Gajah Mada membawa ribuan pasukan hanya bertujuan untuk membuat tekanan. Untuk meyakinkan lawan politik jika Padjajaran menyerah. Akan tetapi yang terjadi adalah surat yang ditulis Hayam Wuruk isinya telah ditukar oleh seseorang sehingga berisi sebuah ancaman dan penyerahan Dyah Pitaloka Citaresmi secara paksa. Tentu saja ini membuat Prabu Linggabuana menjadi murka.
Seketika pasukan di antara dua kubu saling serang. Di kemah wanita saat itu sedang mendandani Putri Dyah Pitaloka terkejut. Mereka sama sekali tidak menyadari adanya peperangan di luar. Bahkan mereka awalnya mengira jika rombongan Majapahit telah menjemput mengingat ada ribuan pasukan berbaris mengelilingi Lapangan Bubat. Hanya dalam waktu sekejap saja puluhan orang telah meninggal dunia. Perang terjadi antara dua kekuatan yang tidak seimbang. Pasukan Padjajaran berperang sekuat tenaga melindungi serangan yang mengarah pada raja mereka. Gajah Mada berusaha menghalau agar serangan segera dihentikan. Namun apa daya perang di luar kemdali. Hanya dalam waktu sekejap saja semuanya telah habis dibantai.
Tahun 1357 Masehi. Di Lapangan Bubat secara resmi terjadi permusuhan abadi yang melibatkan Kemaharajaan Majapahit era Hayam Wuruk dan Gajah Mada melawan Kerajaan Sunda di bawah pemerintahan Prabu Linggabuana.
Pihak Sunda yang tidak bisa menerima perlakuan itu akhirnya memutuskan untuk melawan Majapahit meskipun tidak banyak pasukan Majapahit yang menginginkan peperangan itu terjadi. Serangan yang tidak seimbang itu memakan banyak korban. Seluruh rombongan dari Kerajaan Sunda tewas. Bahkan sang Prabu Maharaja juga tewas tanpa diketahui siapa pembunuhnya karena perang kala itu benar-benar acak terjadi secara brutal. Di tengah situasi mengerikan itu satu persatu rombongan pengantin juga ikut tewas dibantai. Rupanya dalam perang ini ada pasukan penyusup yang dibayar untuk memprovokasi tentara Majapahit.
Perang sadis ini tidak memilah korban. Para wanita yang menjadi pengantar iringan calon pengantin juga dihabisi sehingga tidak menyisakan siapapun kecuali hanya Dyah Pitaloka Citraresmi yang masih hidup karena ia memang diminta secara khusus untuk dibawa hidup-hidup sebagai tawanan politik perang.
Melihat situasi yang mengerikan itu, Dyah Pitaloka Citraresmi tidak bisa berbuat apa-apa sampai akhirnya Gajah Mada memasuki kemah Putri Sunda tersebut dan memintanya secara baik-baik agar sang putri sudi ikut bersamanya. Tujuan Gajah Mada saat itu tidak lain dan tidak bukan untuk menyelamatkan sang putri karena menyadari adanya potensi adu domba yang dilakukan oleh pihak tertentu atas terjadinya peperangan yang tidak diinginkan ini.
Dyah Pitaloka mengatakan pada Gajah Mada.
"Tidak akan aku biarkan diriku dimiliki oleh lelaki Jawa manapun, siapapun dan tidak akan aku gadaikan negeriku hanya demi meminta keselamatan hidupku." Dyah Pitaloka tiba-tiba saja menarik tusuk konde emas di kepalanya dengan seketika ia menghujam jantungnya sendiri sehingga akhirnya sang putri jatuh ke tanah dengan bersimbah darah.
Gajah mada yang kala itu menunduk di hadapan Citaresmi tidak mampu menggagalkan aksi bunuh diri tersebut. Putri Dyah Pitaloka tewas tanpa sempat ia menghalaunya. Dalam keadaan itulah Gajah mada menempatkan jenazah Dyah pitaloka dalam sebuah kereta emas dan mengantarnya dalam keadaan bersedih ke Trowulan.
Melihat kekasihnya telah tiada, Hayam Wuruk murka. Beberapa pelaku adu domba malah menuduh Gajah Mada lah yang merencanakan penyerangan tersebut.
Gajah Mada pun dikukuhkan sebagai biang kerok atas penyerangan rombongan pengantin Kerajaan Sunda Padjajaran. Semua musuh politik Gajah Mada menyerang Gajah Mada dengan fitnah yang amat keji dan menjadikan sumpah palapa yang pernah ia ucapkan belasan tahun silam sebagai dasar utama Gajah Mada menaklukan Kerajaan Sunda Padjajaran.
Sumpah Palapa :
"Sira Gajah Mada Patih Amangkubhumi, sira Gajah Mada: 'Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa."
'Saya Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin memakan buah palapa dan akan berpuasa memakannya, jika saya belum mengalahkan seluruh negeri di jagat Nusantara! Dengan tangan saya! Saya akan taklukan tanah Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik,' ucap Gajah Mada sembari mengangkat Keris Kiai Segara Wedang atau yang dikenal dengan nama Keris Nagasasra.
Ucapan sumpah sakti Mahapatih inilah yang membunuh karirnya sendiri. Musuh politik Gajah Mada menjadikan sumpah ini sebagai taktik menjatuhkan orang hebat itu agar melepas tahtanya sebagai mahapatih pemimpin Pemerintahan Majapahit dan mengembalikan segala kekuasaan itu kepada Maharaja Majapahit.
Gajah Mada sang patih agung itu harus menerima fitnah atas dasar kesalahannya. Gajah Mada dijatuhi hukuman pengasingan diri dan tidak boleh bertemu siapapun selama sisa hidupnya.
Perang besar ini terkenal sebagi perang penaklukan terakhir Majapahit atas negeri di nusantara. Kisah dalam perang ini menyimpan banyak sejarah, mulai dari penyebab hingga dampaknya di kemudian hari.
Menurut Kakawin Nagarakertagama, kala itu Kerajaan Majapahit telah menguasai daerah Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Malaysia, Brunai, Singapura dan sebagian Kepulauan Filipina di masa kepemimpinan Hayam Wuruk (1350-1389).
Hayam Wuruk selaku Raja Majapahit juga menyesali keputusan Gajah Mada. Dalam Kidung Sunda, diterangkan kekecewaan mendalam sang Raja Hayam Wuruk itu membuat hubungannya dengan sang mahapatih menjadi renggang. Padahal Gajah Mada telah menjadi panutan baginya, sebagai pemimpin pemerintahan dan sebagai guru serta bapak terbaik Hayam Wuruk dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan soal kenegaraan.
------------------------------------------------------------------------
CERITA INI BISA DIBELI PDFNYA VIA WA 085654123970 ATAU BISA DIBACA DI SINI
GAJAH MADA - Fatiha
GAJAH MADA
Apa yang membuat Gajah Mada tidak bisa mati, walaupun ia sangat menginginkan kematiannya...
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah:
pemesanan novel ke http://wa.me/6285654123970

Komentar
Posting Komentar