GAJAH MADA (SUMPAH PALAPA)

 




GAJAH MADA (SUMPAH PALAPA)

"ADA SERANGAN!" Seketika pasukan Ra Kuti berhamburan. Merasa dalam istana tidak aman, sebagian orang memaksa keluar dari gerbang kota untuk menyelamatkan diri. Saat gerbang terbuka rupanya pasukan Gajah Mada telah menghadang. Mereka bersiaga sejak tadi di ambang gerbang sehingga serangan terbuka langsung pecah. Pasukan Gajah Mada dengan mudah dapat menembus masuk ke tengah kota tanpa kendala sama sekali. Saat berada dalam istana semua orang yang berseragam tentara diserang habis habisan. Banyak dari para tentara itu tidak dalam kondisi siap tempur lantaran mereka dalam keadaan mabuk sehingga linglung kebingungan mencari senjatanya.
Perang berkecamuk pada malam hari. Dengan seketika Ibukota Majapahit menjadi lautan api. Pasukan-pasukan wanita dan anak-anak bersiaga di depan gerbang. Mereka tidak membiarkan 1 orangpun tentara Ra Kuti yang berusaha melarikan diri. Sebagian besar tentara laki-laki berjibaku saling hantam dan tebas senjata. Dengan sangat cepat Ibukota dikuasai oleh Pasukan Bhayangkara yang dibantu oleh pasukan sukarela yang terdiri dari para petani dan peternak.
Kemenangan yang diraih Gajah Mada pada malam itu tidak terjadi begitu saja. Jauh hari sebelumnya sebelum penyerangan di malam itu, Gajah Mada sudah menyusup masuk Ibukota Majapahit untuk mencari senopati-senopati yang masih berpihak pada RaJa Jayanegara. Setelah pertemuan dengan para senopati, Gajah Mada lalu menyampaikan niatnya. Jika ia berniat untuk mengambil kembali tahta raja. Maka ia meminta pada semua senopati yang berpihak pada raja untuk menyiapkan pasukan khusus. Dan jika mereka dapat menembus istana maka pasukan itu akan berbalik menjadi pendukung Gajah Mada.
Saat ketika perang pecah terjadi, ribuan pasukan Ra kuti yang tergabung dalam pasukan istana pecah menjadi dua kubu. Di antara dua kubu ini pun saling serang satu sama lain. Gajah Mada akhirnya bisa terus fokus memburu Ra Kuti dan terjadi pertempuran sengit antara keduanya yang mengakibatkan kekalahan terhadap Ra Kuti di tangan Gajah Mada.
Kalahnya Ra Kuti menandai pada malam itu jua pasukan pemberontak inipun dapat dipadamkan. Kepala Ra Kuti yang telah dipenggal dilempar ke tengah medan perang.
Pemberontakan Ra kuti pada Majapahit bukanlah pemberontakan pertama. Jauh sebelumnya memang sudah ada pemberontakan lainnya yang dilakukan oleh Dharmaputra yang beranggotakan tujuh orang berpangkat Ra. Yaitu Ra Kuti, Ra Semi, Ra Tanca, Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Banyak, dan Ra Pangsa. Para Ra ini dahulunya digelari Dharmaputra oleh Raja pertama Majapahit. Mereka adalah pegawai istimewa yang disayangi raja Majapahit. Sayangnya setelah Raja Majapahit pertama meninggal, ke-tujuh Ra ini berakhir menjadi pemberontak. Dan 6 lainnya semuanya sudah tewas terlebih dahulu akibat pemberontakan-pemberontakan kecil mereka terdahulu. Dari 7 Ra hanya menyisakan 1 Dharmaputra yaitu Ra Kuti dikarekana dialah Ra yang paling kuat di antara lainnya.
Asal mula pemberontakan mereka pada Raja Majapahit Ke-2 bukan tanpa alasan. Mereka menganggap Raja Jayanegara telah berlaku zhalim pada mereka karena telah banyak berbuat kejahatan terhadap Dharmaputra. Salah satunya ialah Ra Kuti harus kehilangan Istri dan seluruh anggota keluarganya akibat dibunuh oleh Raja Jayanegara.
Keesokan harinya Majapahit kembali menaikkan bendera merah putih serta lambang bintang surya dipasang sebagai simbol kekuatan Majapahit. Gajah Mada mengirim utusan ke Desa Bedander untuk membawa kepala Ra Kuti sebagai Hadiah kepada Raja Jayanegara.
Perjalanan rombongan kerajaan awalnya sempat dihadang oleh pasukan pengawal raja yang berjumlah 100 orang. Hampir saja rombongan penjemput tewas oleh saja-jebakan jebakan mematikan yang dipasang untuk menghantam mereka. Akan tetapi setelah para tentara menunjukkan hadiah dari Gajah Mada, baru lah mereka mengijinkan rombongan tentara tersebut hadir menjemput Raja.
"Apa jaminannya, jika kedatangan Kalian adalah menjemput raja kami?" tanya kepala pengawal raja.
Salah satu utusan memberikan sebuah buntalan kain yang berisi kepala Ra Kuti.
"Berikan ini pada Raja!"
Raja yang kala itu bersemedi, didatangi oleh prajurit pengawal. Raja pun seketika menghentikan semedinya.
"Ada apa?"
"Gusti Prabu, ada rombongan istana datang menjemput Gusti." jawab pengawal tersebut.
"Apa jaminannya?"
"Pengawal itu memberikan bingkisan kain."
Raja Jayanegara mengambil bingkisan tersebut. Ketika membukanya, raja merasa sangat gembira saat melihat jika kepala itu adalah kepala Ra Kuti.
"Apa Gajah Mada menyertai penjemputanku?"
"Tidak Gusti, Prabu Bekel Gajah Mada menunggu kehadiran Gusti prabu di istana."
"Lelaki yang sangat bijaksana!" ucap Raja Jayanegara. Memuji ketajaman analisa Gajah Mada. Sepeninggal raja, singgasana harus dipastikan aman agar tidak dikuasai oleh siapun. Jika singgasana diduduki oleh orang lain, mau tidak mau seluruh senopati dan yang lainnya harus kembali tunduk pada raja baru. Akan tetapi dengan tinggalnya Gajah Mada di istana menandakan singgasananya telah dijaga dari siapapun yang berusaha ingin menguasai majapahit.
Kehadiran Raja Jayanegara kembali di istana disambut meriah oleh segenap rakyat Majapahit. Pada hari itu jua atas prestasinya, Gajah Mada dianugerahi gelar Patih di Negeri Kahuripan pada tahun 1319. Gajah Mada pun menjabat Patih Kahuripan selama 2 tahun, yaitu mulai tahun 1319 sampai tahun 1321.
Posisi Gajah Mada sebagai Patih Kahuripan merupakan hal yang menantang baginya. Itu adalah dunia baru Gajah Mada. Dengan posisinya, ia mendapatkan berbagai ilmu baru tentang perpolitikan. Gajah Mada yang biasanya bergulat dengan pedang dan darah selama menjadi prajurit kini di pemerintahan ia meningkatkan pengetahuan serta keterampilan dan menyatukan pengalamannya di bidang kepemimpinan manusia. Menjadi pemimpin manajemen tata pemerintahan dan ketataprajaan (ketatanegaraan). Salah satu kemampuannya yang sangat dikagumi oleh rakyat Majapahit, terutama kalangan Istana adalah dalam problem solving & decision making. Kemampuannya di dalam menganalisa suatu permasalahan sangat tajam serta tegas di dalam mengambil suatu keputusan besar yang memajukan Negara Kahuripan saat itu.
Atas banyak prestasinya, pada tahun 1321 istana kembali mempromosikan Gajah Mada menjadi Patih di wilayah kekuasaan Majapahit lainnya yaitu Daha. Daha adalah suatu daerah yang lebih prestisius dengan wilayah yang lebih luas dibanding dengan Wilayah Kahuripan. Posisinya menggantikan posisi patih sebelumnya yaitu Patih Arya Tilam.
Promosi yang disponsori oleh istana bukan tanpa alasan. Raja Jayanegara sangat menginginkan Gajah Mada menjadi Maha Patih di Istana Majapahit. Untuk menjadi Mahapatih dalam urusan hukum ketatanegaraan Majapahit tidak boleh diangkat begitu saja tanpa ada pengalaman memimpin daerah bawahan.
Selama menjalankan berbagai tugasnya di Negeri Daha, Gajah Mada mendapatkan banyak sekali dukungan serta endorsement mulai pendidikan training, pelatihan coaching, dan pembimbingan counseling dari tatapraja seniornya yang kala itu merupakan Maha Patih Agung Majapahit yaitu Arya Tadah. Beliau adalah patih tertinggi istana atau bergelar Maha Patih Majapahit.
Melihat kemampuan Gajah Mada yang luar biasa itulah membuat Arya Tadah dan Raja Jayanegara sengaja mengkader Gajah Mada untuk menggantikan posisinya kelak untuk mendampingi putri Raja Jayanegara apabila ia nanti tidak berkuasa lagi.
Di tahun 1331. Bersama Adityawarman, Gajah Mada kembali berhasil menumpas kasusu separatism Sadeng. Hal tersebut semakin mempermulus jalannya untuk menggantikan posisi Arya Tadah sebagai Maha Patih Majapahit. Hingga ketika Arya Tadah merasa sudah tua dan ingin pensiun sebagai Maha Patih, Arya Tadah mengusulkan kepada Ratu Tribhuawanatunggadewi Jayawisnuwardhani dan wasiat Jayanegara untuk mengangkat Gajah Mada sebagai Maha Patih Agung menggantikan posisi Arya Tadah.
Sang Ratu yang mendapatkan wasiat itupun menyetujui usulan Maha Patih Arya Tadah tersebut dan lalu mengangkat Gajah Mada sebagai Maha Patih Kerajaan Majapahit.
Laiknya pelantikan kepala pemerintahan jaman sekarang, dibuatlah penobatan besar yang mengukuhkan Gajah Mada menjadi Maha Patih. Malam pelantikan disaksikan oleh ribuan prajurit serta ratusan bangsawan. Terdapat juga menteri serta berbagai element negeri beserta seluruh pimpinan negara bawahan majapahit turut menyaksikan pelantikan tersebut.
Usai dilantik, Gajah Mada membuat pidato dalam sebuah statement atau janji politik yang sangat luar biasa. Dan janji itu sangat melegenda hingga saat ini dan akan selalu dikenang oleh berbagai generasi bagsa yaitu suatu janji yang dikenal dengan nama SUMPAH PALAPA. Sumpah yang menggetarkan tanah dan menggoncangkan langit di waktu sakral itulah Gajah Mada dengan lantang berucap.
Sira Gajah Mada Patih Amangkubhumi : 'Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa"
Gajah Mada mengeluarkan keris yang tidak pernah ia lepaskan dari kumpang nya ke langit. Seketika tanah seakan bergoncang. Langit bergemuruh. Angin menebar ke segala penjuru arah. Semua orang yang berada di Majapahit terkesima akan besarnya pengaruh sumpah itu sebagai ucapan sakti. Betapa kuatnya sumpah itu sehingga didengar oleh seluruh penduduk langit dan bumi.
--------------------------------------------------------------------------------
CERITA INI SUDAH TAMAT DAN BISA DIBACA DI SINI👇
GAJAH MADA - Fatiha
GAJAH MADA
Apa yang membuat Gajah Mada tidak bisa mati, walaupun ia sangat menginginkan kematiannya...
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah:
ATAU BISA DIBELI PDFNYA VIA WA Wa.me/6285654123970 HARGA 25 RIBU
❤️PROMO SERI GALIN HANYA 100 RIBU❤️

sumber tulisan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gajah Mada Adalah Jirnnnodhara

Keris Nagasasra Gajah Mada

Perjalanan Waktu Gajah Mada