Awal Karir Gajah Mada : ABAD 13
JUDUL : GAJAH MADA
ABAD 13
Awal karir dahulu Gajah Mada hanya mendaftar sebagai tentara bawahan biasa. Ia bertugas sebagai penjaga malam gerbang istana dan tergabung dalam kesatuan yang disebut Bhayangkara. Akan tetapi semakin lama kemampuan bertempur Gajah Mada terlihat sangat mencolok di antara prajurit lainnya. Iapun diikutsertakan dalam beberapa latihan elite pasukan dan beberapa kali ditugaskan dalam operasi militer kecil penangkapan penjahat-penjahat dan selalu berhasil. Oleh karena prestasinya tersebut akhirnya Gajah Mada diangkat menjadi 'Bekel' atau sekelas Kepala Prajurit Bhayangkara dengan tugas memimpin pasukan pengaman dan pasukan khusus pelindung dan pengawal raja. Jika disamakan dengan saat ini mungkin sebagai Kepala Paspampres.
Pengabdian besar Gajah Mada kepada Negara Majapahit dimulai pada masa pemerintahan Raja Jayanegara pada tahun 1309 sampai dengan tahun 1328. Pada masa itu Majapahit berada dalam huru hara besar. Pemberontakan terjadi di mana-mana oleh kelompok Dharmaputra. Walaupun sebagian besar Dharmaputra telah ditumpas, namun masih ada 1 Dharmaputra yang memiliki pasukan yang amat tangguh. Pada malam itu istana diserang oleh pasukan pemberontak. Ra Kuti membantai seluruh penghuni istana yang dianggap berpihak pada Raja.
Dalam keadaan terdesak itulah raja dan beberapa anak keturunan raja lainnya terpaksa mengungsi ke sebuah desa yang dikelilingi oleh hutan yang bernama Desa Bedander.
Di Bedander inilah, raja meminta kepada kepala desa untuk berlindung dari kejaran tentara Ra Kuti yang memburu rombongan pasukan raja yang hanya bersisa sekitar 600 orang saja.
Raja diburu karena kekuatannya yang lemah, sehingga membuka kesempatan bagi Ra Kuti untuk menyebar ratusan mata-mata untuk mencarinya. Di saat Jayanegara berlindung di hutan, Ra Kuti di ibukota mulai membangun kekuasan. Ia mulai menata pemerintahan baru. Prajurit Majapahit yang jumlahnya ribuan orang mau tidak mau harus membelot mendukung Ra Kuti sebagai perebut tahta. Oleh karena dalam sumpah satria setiap prajurit wajib patuh pada siapa saja yang menduduki tahta, bukan pada siapa rajanya. Mereka tidak memperdulikan siapa rajanya. Dan yang mereka tahu ialah mereka telah disumpah untuk melindungi siapa saja yang menguasai singgasana. Itulah mengapa dalam beberapa hikayat raja-raja kuno, tahta sangat berpengaruh bagi seorang raja. Dan rakyat jelata akan lebih dihormati jika berbicara di atas tahta singgasana dari pada raja yang bicara namun tidak memiliki tahta singgasana.
Maka Raja Jayanegara yang putus asa pun hanya berharap mati di desa persembunyian atau membentuk kerajaan baru demi menandingi kekuatan Majapahit yang telah besar.
Sebagai seorang pemimpin Pasukan Bhayangkara dan masih memiliki kekuatan 600 pasukan. Gajah Mada yang seorang prajurit sangat optimis, jika 600 pasukan itu masih mampu mengalahkan Ra Kuti yang telah mengkudeta kekuasaan raja.
"Bagaimana engkau melakukannya hanya dengan segelintir pasukanmu ini?" tanya Raja Jayanegara kala itu.
"Jika baginda merestui, jangankan Ra Kuti dan seluruh pasukannya. Tanah Jawapun akan saya gulung dalam gengaman Majapahit yang agung!" ucap Gajah Mada berapi-api.
Raja Jayanegara memegang pundak Gajah Mada. "Aku merestuimu, tapi aku tidak berharap banyak. Mungkin restuku ini adalah restu terakhirku padamu atau malam ini malam terakhirku jua melihatmu sebagai abdiku yang paling setia," ucap sang Raja. Ia berusaha menahan dukanya karena ia sadar kecil kemungkinan Gajah Mada bisa kembali dengan membawa kemenangan gemilang. Kekhawatirannya juga bukan tanpa alasan. Kekuatan berjumlah 600 orang akan sulit melawan belasan ribu kekuatan Ra Kuti di Majapahit. Dan dengan 600 pasukan itulah Gajah Mada masih membagi kembali untuk meninggalkan 100 orang tentara di Bedander untuk melindungi raja. Ketika itu Gakah Mada berangkat bersama 500 orang tentara dengan bekal makanan seadanya.
Sebelum meninggalkan tempat persembunyian Jayanegara, Gajah Mada membuat semua area perlindungan dengan memasang berbagai macam jebakan yang tersebar di Hutan Bedander yang sekarang terletak di Kabupaten Jombang. Bahkan pada masa itu beberapa alat serang semi modern yang dibuat oleh Gajah Mada dan sisa pasukannya. Tujuannya memastikan supaya tempat itu menjadi tempat perlindungan paling aman dan paling sulit untuk dijangkau oleh musuh meskipun mereka mengelilingi Hutan Bedander dari berbagai sisi.
Dibuatnya perlindungan super ketat bukanlah tanpa alasan. Ra Kuti masih memburu raja kedua Majapahit itu karena khawatir jika Jayanegara membentuk aliansi dengan Raja Jawa lainnya sehingga semua tempat di perbatasan dijaga sangat ketat. Ia tidak ingin Jayanegara lolos dan nantinya akan menjadi bumerang bagi kekuasaan yang baru saja direbutnya. Apalagi ia mendengar desas desus jika kepergian Raja Jayanegara masih menyertakan ratusan pasukan. Meski nilainya kecil, akan tetapi pasukan yang menyertainya adalah Pasukan Bhayangkara. Pasukan itu sama kuatnya seperti ribuan pasukan biasa karena pasukan itu adalah squad elite dengan kasta tertinggi di Majapahit.
Gajah Mada berangkat bersama 500 orang prajurit. Hanya bermodal semangat siap menggempur ibukota negara dengan menghadapi musuh yang jumlahnya sekitar belasan ribu atau mungkin menjelma menjadi puluhan ribu. Setiap wilayah yang dikuasai dengan cara memberontak biasanya pemberontak akan merekrut semua rakyat terutama laki-laki untuk dijadikan tentara secara paksa demi melindungi istana dari serbuan pasukan kerajaan yang sah.
Perjalanan menuju ke ibukota memakan waktu berminggu-minggu sebab rombongan sebanyak 500 orang itu hanya bergerak pada malam hari saja. Siang harinya mereka akan beristirahat total. Taktik ini memang mereka gunakan demi melindungi posisi perjalanan mereka. Gajah Mada khawatir pergerakan tentara sebesar 500 orang akan menjadi pusat perhatian apabila berjalan di siang hari. Dan Ra Kuti pasti sudah menyebarkan seluruh mata-mata di semua tempat di penjuru wilayah dan desa-desa di Majapahit.
Aktivitas perjalanan Gajah Mada menuju Ibukota Majapahit nyaris tanpa hambatan apa-apa. Malam hari bergerak, siang istirahat. Gajah Mada jua singgah dan menyamar sebagai rakyat biasa pada siang harinya. Ia bersama pasukan kecil lainnya disebar untuk mengajak masyarakat penduduk desa dari rumah ke rumah untuk bergabung secara sukarela menjadi bagian dari pasukan Majapahit untuk merebut jembali tahta kerajaan. Pada masa itulah para wanita mulai dilibatkan dalam perang. Gajah Mada kala itu tidak mempersoalkan gender wanita dan laki-laki sebagai pasukan. Gajah Mada memutus aturan bahwa wanita tidak boleh terlibat perang. Ia merestui wanita untuk tergabung dalam pasukan dan siap angkat senjata membela Raja Jayanegara.
Sepanjang perjalanan selama berminggu-minggu, akhirnya Gajah Mada bisa mengumpulkan sekitar 600 pasukan baru yang meliputi 350 laki-laki dewasa 50 pasukan remaja dan 200 pasukan wanita di segala umur.
Hari penyerangan telah tiba. Ra Kuti baru saja diangkat menjadi Raja oleh para Brahmana. Suasana istana terang benderang. Orang-orang sibuk berpesta pora. Kebanyakan dari mereka mabuk tuak dalam merayakan kebahagiaan atas dilantiknya kekuasaan baru Ra Kuti yang menobatkan dirinya menjadi raja baru Majapahit. Di tengah pesta besar itulah kebanyakan pasukan yang pro Ra Kuti tidak menyadari jika istana telah dikepung dari berbagai penjuru sudut.
Gajah Mada menutup dahinya menggunakan ikat kepala kain. Ia menyamar sebagai rakyat biasa sembari berjalan menuju gerbang Majapahit. Ia menarik gerobak kayu yang berisi berbagai macam hasil panen kebun.
Seorang penjaga istana yang berjaga di muka gerbang menahan Gajah Mada.
"Apa yang Kisana bawa?"
"Saya membawa hasil panen, Tuan."
"Kenapa pulang ke ibukota selarut ini?" tanya seorang penjaga. 5 penjaga lainnya memeriksa isi gerobak yang ditarik oleh Gajah Mada.
"Sore tadi, roda gerobak saya patah dan saya harus memperbaikinya."
Di saat sedang memeriksa Gajah Mada, penjaga terkejut karena melihat 5 rekannya tiba-tiba tumbang dengan leher berdarah akibat anak panah yang menusuk leher. Merasa sadar bahwa sedang ada penyusupan, penjaga itupun berniat melarikan diri untuk menarik lonceng peringatan serangan. Akan tetapi Gajah Mada lebih sigap, ia menarik lengan penjaga tersebut dan menghunuskan belati kecilnya pada leher sehingga darah mengucur menembus ke sebelah kanan.
Akibat serangan mendadak itu, gerbang depan telah berhasil dikuasai. Suara klentengan musik gamelan serta nyanyian sinden terdengar dari luar gerbang istana. Gajah Mada menyuruh seluruh penyerang laki-laki stanby di depan gerbang sedang pasukan panah yang terdiri dari pasukan wanita dan anak-anak menyiagakan panahnya ke udara dan mengarahkan ke dalam pagar yang melindungi istana.
Atas aba-aba Gajah Mada, ribuan anak panah dilepas ke langit kota. Seketika Ibukota Majapahit dihujani oleh ribuan anak panah. Orang-orang berlarian ketakutan. Tidak ada tempat bersembunyi. Bahkan rumah-rumah yang atapnya terbuat dari atap genteng tanah liat pecah akibat tertembus oleh hembusan ujung anak panah. Begitu banyak pasukan yang lalai pada serangan itu dan sulit melarikan diri karena panah-panah itu datang nyaris tanpa terlihat.
-----------------------------------‐---------‐-‐-----------------------------‐---
CERITA INI BISA DIBELI PDFNYA VIA WA 085654123970 ATAU DI BACA SAMPAI TAMAT DI SINI
GAJAH MADA - Fatiha
GAJAH MADA
Apa yang membuat Gajah Mada tidak bisa mati, walaupun ia sangat menginginkan kematiannya...
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah:
https://read.kbm.id/.../cbf07a7a-2937-4b75-8387-fefa72b05c35
pesan buku bisa ke wa http://wa.me/6285654123970

Komentar
Posting Komentar